PETA NARASI – Menutup lembaran tahun 2025 dan mengawali 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen nyata dalam penanganan krisis di tanah air. Tercatat, hingga akhir Desember 2025, Kepala Negara telah melakukan lima kali kunjungan kerja ke berbagai titik bencana di Pulau Sumatera, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh. Langkah maraton ini ditegaskan pihak Istana sebagai bentuk komitmen untuk memastikan seluruh proses pemulihan infrastruktur dan sosial berjalan tanpa hambatan.
Pihak Sekretariat Kabinet (Setkab) dan Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan bahwa intensitas kunjungan yang tinggi ini merupakan instruksi langsung dari Presiden agar birokrasi tidak memperlambat bantuan bagi rakyat.
“Presiden ingin memastikan bahwa negara hadir di setiap detik masa sulit warga. Lima kali kunjungan ini adalah pesan bahwa pemulihan harus cepat, tepat, dan berkelanjutan,” tulis pernyataan resmi di laman Setkab.go.id.
Rangkaian Kunjungan: Dari Tapanuli hingga Tanah Datar
Kunjungan kelima Presiden Prabowo dilakukan tepat pada penghujung tahun, yakni Rabu, 31 Desember 2025. Dalam kunjungan tersebut, Presiden memfokuskan perhatian pada wilayah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di sana, ia meninjau langsung pembangunan Jembatan Bailey Sungai Garoga yang menjadi urat nadi distribusi logistik warga.
Sebelumnya, rangkaian kunjungan Presiden dimulai sejak awal Desember 2024 (pada awal masa jabatan dan berlanjut ke 2025) ketika intensitas hujan ekstrem memicu banjir bandang dan longsor besar di wilayah pesisir barat Sumatera. Berikut adalah kilas balik titik fokus kunjungan Presiden:
- Awal Desember 2025 (Sumatera Utara & Aceh): Meninjau pengungsi di Tapanuli Tengah dan memastikan distribusi BBM serta logistik ke wilayah terisolasi.
- Pertengahan Desember 2025 (Sumatera Barat): Mengunjungi Kabupaten Agam dan Tanah Datar untuk melihat perbaikan jalan Lembah Anai yang putus total.
- Desember 2025 (Aceh): Memantau pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir besar di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
- Kunjungan Susulan (Sumatera Barat): Memastikan normalisasi listrik dan air bersih mencapai 100%.
- Penghujung Tahun (Tapanuli Selatan): Menutup tahun dengan bermalam bersama warga terdampak dan mengecek kesiapan posko kesehatan.
Fokus Utama: Infrastruktur dan Kebutuhan Dasar
Dalam setiap kunjungannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik adalah prioritas utama.
“Kita tidak boleh membiarkan rakyat terisolasi terlalu lama. Akses udara kita kerahkan, tetapi akses darat harus segera tembus agar ekonomi warga kembali bergerak,” ujar Presiden saat meninjau lokasi di Padang Pariaman.
Istana melaporkan bahwa per 1 Januari 2026, sebagian besar akses jalan utama di Sumatera Barat dan Sumatera Utara telah berhasil dibuka kembali. Pembangunan jembatan darurat (Bailey) dilakukan oleh personel TNI dan Kementerian PU di bawah pengawasan langsung Kepala Negara.
Selain fisik, layanan kesehatan menjadi perhatian serius. Presiden sempat mengunjungi Posko Kesehatan Kodam I/BB di Tapanuli Selatan untuk memastikan stok obat-obatan mencukupi. Ia juga meminta para menteri terkait untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di daerah bencana, terutama saat memasuki pergantian tahun.
Negara Hadir Tanpa Bencana Nasional
Meskipun terdapat desakan untuk menetapkan status Bencana Nasional, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini sudah berada pada level maksimal tanpa harus terhambat prosedur administrasi status tersebut. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sudah berjalan sangat efektif.
“Pemerintah mengerahkan lebih dari 37.000 personel TNI dan Polri untuk rekonstruksi. Sepuluh menteri berada di lapangan secara bergantian. Ini menunjukkan bahwa meskipun tidak berstatus nasional secara administratif, penanganannya adalah prioritas nasional,” tegas Presiden dalam keterangannya yang dirilis oleh Sekretariat Negara.
Apresiasi untuk Petugas Lapangan
Dalam sidang kabinet paripurna terakhir di tahun 2025, Presiden Prabowo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para relawan, petugas BNPB, Basarnas, serta TNI/Polri yang bekerja di lapangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pemulihan cepat ini adalah hasil kerja sama kolektif, bukan kerja individu.
“Ini adalah hasil kerja keras kita semua. Mereka yang di lapangan bahkan bertaruh nyawa untuk membantu rakyat. Kita berdoa agar rehabilitasi segera selesai dan rakyat bisa hidup normal kembali,” tuturnya.
Langkah Selanjutnya
Memasuki tahun 2026, pemerintah berencana untuk memulai tahap rehabilitasi permanen, termasuk pembangunan hunian tetap (Huntap) dan perbaikan sekolah-sekolah yang rusak. Presiden dijadwalkan akan kembali meninjau perkembangan pembangunan fisik tersebut pada kuartal pertama tahun ini guna memastikan janji pemulihan cepat tersebut terpenuhi.
