PETA NARASI – Belakangan ini, mahasiswa di Bách Khoa Hanoi University menghadapi kabar yang mengejutkan. Tes IELTS, yang sebelumnya dianggap “mudah dilewati” oleh banyak mahasiswa, kini menunjukkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Banyak siswa yang sebelumnya mendapatkan skor memuaskan kini harus berjuang lebih keras untuk mencapai target. Perubahan ini memicu diskusi hangat di kalangan akademisi dan mahasiswa tentang bagaimana strategi persiapan IELTS perlu diadaptasi.
Dosen dan pembimbing akademik menekankan bahwa perubahan ini bukan hanya sekadar peningkatan kesulitan soal, tetapi juga menuntut kemampuan bahasa Inggris yang lebih holistik. Mahasiswa tidak lagi bisa mengandalkan trik atau hafalan singkat, melainkan perlu pemahaman mendalam tentang tata bahasa, kosakata, dan kemampuan berpikir kritis dalam bahasa Inggris. Situasi ini menjadi ujian nyata bagi mereka yang bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri atau memperoleh sertifikat bahasa untuk karier profesional.
Perubahan Format dan Standar Penilaian
Salah satu faktor utama yang membuat IELTS di Bách Khoa Hanoi University terasa lebih sulit adalah perubahan format dan standar penilaian. Bagian listening dan reading kini memiliki soal yang lebih kompleks, menuntut mahasiswa untuk memahami konteks secara mendalam, bukan sekadar menemukan kata kunci. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang terbiasa mempersiapkan diri dengan metode lama.
Selain itu, penilaian writing dan speaking mengalami peningkatan standar objektivitas. Dosen penilai kini lebih fokus pada logika penyampaian ide, kelancaran bahasa, dan kemampuan argumentasi, bukan hanya grammar dan struktur kalimat. Hal ini berarti mahasiswa perlu berlatih menulis esai yang lebih analitis dan berbicara dengan percaya diri, sambil menjaga kualitas bahasa. Banyak yang merasa bahwa tantangan ini lebih menuntut kemampuan berpikir kritis daripada sebelumnya.
Dampak pada Mahasiswa dan Strategi Belajar Baru
Tingkat kesulitan yang meningkat memaksa mahasiswa Bách Khoa Hanoi University untuk menyesuaikan strategi belajar mereka. Beberapa mahasiswa melaporkan stres yang meningkat karena tidak bisa lagi mengandalkan metode belajar instan. Mereka harus mengalokasikan waktu lebih banyak untuk latihan listening aktif, membaca artikel berbahasa Inggris, dan berdiskusi dalam kelompok kecil untuk meningkatkan kemampuan speaking.
Selain itu, banyak yang mulai memanfaatkan sumber belajar modern, seperti platform online dan aplikasi pembelajaran bahasa, untuk mempersiapkan diri secara efektif. Tutor profesional juga menjadi semakin populer, karena pendekatan personal dapat membantu siswa memahami kelemahan spesifik mereka. Para mahasiswa yang berhasil menyesuaikan strategi belajar dengan baik cenderung tetap mendapatkan skor tinggi, meski lingkungan tes semakin menantang.
Perspektif Akademisi dan Prediksi Masa Depan
Para akademisi di Bách Khoa Hanoi University melihat perubahan ini sebagai langkah positif. Menurut mereka, peningkatan kesulitan IELTS mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia akademik dan profesional yang semakin global dan kompetitif. Mereka menekankan bahwa kemampuan bahasa Inggris yang solid bukan hanya soal skor, tetapi tentang kesiapan menghadapi studi internasional dan karier yang menuntut komunikasi efektif.
Melihat tren ini, para pakar pendidikan memprediksi bahwa mahasiswa perlu lebih awal mempersiapkan diri, mulai dari semester awal, agar mampu mengikuti ritme pembelajaran dan tes bahasa Inggris yang menuntut kemampuan kritis. Selain itu, universitas berencana menyediakan workshop, sesi latihan intensif, dan bimbingan khusus untuk membantu mahasiswa menyesuaikan diri dengan standar baru. Dengan pendekatan ini, meskipun IELTS tidak lagi “mudah”, mahasiswa tetap memiliki peluang sukses dengan persiapan yang tepat.
