Puing dan Kenangan Kisah SDN Supiturang yang Terkubur Erupsi Semeru

PETA NARASI – Tragedi erupsi Gunung Semeru pada awal tahun 2025 meninggalkan duka mendalam dan kerugian tak terhingga bagi masyarakat di lereng gunung. Di antara sekian banyak infrastruktur yang hancur, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Supiturang 04 di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, menjadi salah satu saksi bisu keganasan alam. Sekolah yang dulunya menjadi pusat kegiatan belajar mengajar bagi ratusan anak ini kini ‘hilang’, tertimbun material vulkanik panas hingga menyisakan puing dan kenangan.

Kondisi SDN Supiturang 04 saat ini sangat memprihatinkan. Material lahar dingin dan panas yang membawa pasir, kerikil, dan batu-batu besar telah menimbun seluruh bangunan sekolah. Dari pantauan di lokasi, yang tersisa hanyalah atap dan tiang-tiang bangunan yang mencuat di antara timbunan abu setinggi lebih dari empat meter. Lokasi yang dulunya adalah lapangan sekolah kini menjadi hamparan abu vulkanik yang luas dan sunyi.

Hilang Ditelan Awan Panas

SDN Supiturang 04 terletak di jalur yang paling parah dilalui oleh Awan Panas Guguran (APG) Semeru. Pada saat erupsi terjadi, material vulkanik meluncur deras dari puncak, menghantam dan mengubur desa-desa di sekitarnya, termasuk area sekolah.

Bapak Hadi Santoso, mantan Kepala Sekolah SDN Supiturang 04, menceritakan detik-detik mencekam saat APG menerjang.

“Semua terjadi sangat cepat. Beruntung, saat itu bukan jam sekolah. Tapi kami tidak menyangka dampaknya akan sebesar ini,” ujar Hadi dengan mata berkaca-kaca saat menengok kembali lokasi sekolahnya yang kini telah rata dengan timbunan.

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, diperkirakan hampir seluruh aset bangunan dan perlengkapan sekolah, mulai dari meja, kursi, buku pelajaran, hingga dokumen penting, telah terkubur dan sulit untuk diselamatkan. Kerugian materiel ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Trauma dan Upaya Pendidikan di Pengungsian

Lebih dari sekadar kerugian fisik, hilangnya sekolah ini telah menimbulkan trauma mendalam bagi para siswa dan guru. SDN Supiturang 04 memiliki lebih dari 150 siswa dan belasan guru yang kini tersebar di berbagai posko pengungsian atau rumah kerabat yang aman.

Awalnya, proses belajar mengajar sempat terhenti total. Namun, berkat inisiatif cepat dari Dinas Pendidikan dan bantuan dari berbagai relawan, kegiatan belajar mengajar kini telah dialihkan ke sekolah darurat dan posko-posko pengungsian.

“Kami menyelenggarakan Sekolah Darurat di tenda-tenda atau meminjam sebagian ruang di gedung SD terdekat yang masih utuh. Ini penting untuk menjaga semangat anak-anak dan memberikan mereka rasa normalitas di tengah bencana,” jelas Ibu Ratna Dewi, Koordinator Relawan Pendidikan di Lumajang.

Para guru menghadapi tantangan besar. Selain minimnya fasilitas dan perlengkapan buku dan alat tulis sebagian besar disumbangkan mereka juga harus menangani pemulihan psikososial siswa yang kehilangan tempat tinggal, sekolah, dan bahkan anggota keluarga.

Komitmen Membangun Kembali

Pemerintah Kabupaten Lumajang, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), telah menyatakan komitmennya untuk membangun kembali fasilitas pendidikan yang hancur.

Karena lokasi lama SDN Supiturang 04 berada di zona merah yang rawan bencana dan dianggap tidak aman untuk pembangunan kembali, rencana relokasi telah ditetapkan. Lahan baru yang lebih aman telah disiapkan di Desa Sumberwuluh untuk pembangunan sekolah yang permanen.

“Relokasi adalah langkah wajib. Kami tidak bisa menempatkan anak-anak kita dalam bahaya lagi,” kata Bupati Lumajang, Thoriqul Haq. “SDN Supiturang 04 akan dibangun kembali dengan desain yang tahan bencana dan fasilitas yang lebih baik, sebagai simbol kebangkitan pendidikan di lereng Semeru,” tambahnya.

Pembangunan gedung sekolah baru diperkirakan akan dimulai pada awal tahun 2026, setelah proses pembersihan dan penataan lokasi baru selesai. Selama masa tunggu ini, ratusan siswa SDN Supiturang 04 akan terus melanjutkan pendidikan mereka di sekolah darurat, didukung penuh oleh guru-guru mereka yang berdedikasi tinggi meskipun harus mengajar di bawah keterbatasan.

Hilangnya SDN Supiturang 04 adalah pengingat pahit akan kekuatan alam. Namun, semangat para guru dan siswa untuk terus belajar di tengah puing-puing adalah bukti nyata bahwa harapan dan pendidikan tidak akan pernah bisa ditimbun oleh abu.

By admin