PETA NARASI – Menurut laporan terbaru, sebuah negara anggota NATO yakni Swedia telah menyatakan kebutuhan untuk memperoleh sistem rudal jarak jauh yang mampu menjangkau wilayah Rusia hingga kedalaman strategis sekitar 2.000 kilometer.
Pernyataan ini muncul dari dokumen resmi militer Swedia serta pernyataan publik pejabat tinggi mereka termasuk Pal Jonson, Menteri Pertahanan Swedia yang menyebut bahwa peningkatan ancaman dari Rusia memaksa Swedia untuk memperkuat kemampuan “strike jauh” sebagai bentuk deterrence.
Langkah ini mendapat sorotan luas karena, jika direalisasikan, berarti Swedia dan secara potensial NATO bisa memiliki kemampuan menyerang sasaran militer atau infrastruktur di dalam wilayah Rusia.
Kenapa Swedia dan NATO Melirik Rudal Semacam Itu
- Invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 telah mengubah peta keamanan Eropa secara dramatis. Banyak negara Eropa termasuk Swedia yang memutuskan bergabung dengan NATO dan memperkuat pertahanan mereka dengan alutsista modern.
- Dokumen militer Swedia menyebut bahwa jangkauan rudal 2.000 km dianggap penting agar bisa mencapai “kedalaman strategis” dari potensi sasaran bukan hanya sasaran dekat perbatasan, tetapi jauh ke dalam wilayah Rusia.
- Swedia dan sekutu NATO melihat bahwa untuk menghadapi kemampuan militer Rusia termasuk rudal jarak jauh, drone, dan sistem udara mereka perlu deterrence setara. Dengan demikian, rudal jarak jauh dianggap sebagai bagian dari strategi defensif/deterrent.
Kenapa Ini Mengundang Perhatian
Permintaan rudal jarak jauh untuk menyerang Rusia menyebabkan sejumlah kekhawatiran dan potensi eskalasi besar:
- Jika senjata semacam ini benar digunakan ke wilayah Rusia, bisa dianggap sebagai tindakan agresi langsung terhadap Rusia dan bisa memicu siklus balasan militer yang besar.
- Sejumlah pihak termasuk analis militer memperingatkan risiko bahwa hal ini bisa memancing Rusia menggunakan senjata yang jauh lebih destruktif, bahkan senjata nuklir, sebagai respons.
- Di dalam blok NATO sendiri, keputusan semacam ini dapat memicu perdebatan: antara negara yang menginginkan deterrence kuat versus negara yang khawatir akan eskalasi dan perang terbuka.
Selain itu, penggunaan rudal jarak jauh terhadap sasaran di Rusia juga menyentuh isu legalitas internasional, serta kemungkinan sanksi atau kritik diplomatik.
Bagaimana Para Pemimpin Membela Keputusan Itu
Meskipun banyak kritik, pemimpin Swedia dan beberapa pihak di Eropa menyatakan bahwa:
- Tujuan utama bukan agresi melainkan pencegahan (deterrence). Dengan memiliki kemampuan menyerang jauh, mereka berharap bisa menahan langkah agresif Rusia sebelum terjadi konflik besar.
- Investasi senjata semacam ini dianggap perlu seiring Rusia memperbarui dan memperkuat kemampuan militer mereka termasuk rudal, drone, dan senjata jarak jauh lainnya. Jika tidak ditanggapi, negara-negara Eropa (dan NATO) bisa kewalahan dalam mempertahankan diri.
- Swedia, yang dulu netral, sejak bergabung dengan NATO merasakan bahwa keamanan bersama Eropa harus dijaga secara proaktif termasuk melalui kemampuan militer modern.
Dalam artian itu, mereka menyampaikan bahwa rudal dengan jangkauan jauh bukan ditujukan untuk perang tetapi sebagai “jaminan keamanan” di tengah ancaman yang dianggap meningkat.
Implikasi bagi Eropa dan Dunia Risiko & Dampak Potensial
Jika Swedia dan NATO benar mengakuisisi dan mempersiapkan penggunaan rudal jarak jauh terhadap Rusia, ada beberapa implikasi besar:
- Eskalasi besar di Eropa Timur Rusia hampir pasti menanggapi, bisa dengan peningkatan militer, mobilisasi, atau penggunaan senjata yang lebih berat.
- Potensi konflik berskala luas jika rudal menyerang wilayah dalam Rusia, konflik bisa meluas dari Ukraina ke negara-negara Eropa.
- Ketidakstabilan geopolitik global NATO Rusia bisa memasuki fase konfrontasi militer langsung, mengancam stabilitas global.
- Dilema moral dan kemanusiaan risiko korban sipil, terutama jika sasaran meliputi infrastruktur penting atau kawasan urban.
- Mengguncang arsitektur keamanan Eropa perjanjian kontrol senjata, diplomasi, dan kepercayaan antar negara bisa tergerus, membuka jalur bagi konflik baru.