PETA NARASI – Dalam beberapa hari terakhir, Rusia melalui Kremlin menyatakan bersedia membahas kembali dalam arti serius draft perdamaian untuk Ukraina yang diusulkan oleh Amerika Serikat.
Putin mengatakan bahwa kerangka damai yang telah “direvisi” dan disampaikan ke Moskow bisa dijadikan “dasar bagi kesepakatan masa depan.” Namun, ia juga menekankan bahwa toleransi Rusia memiliki batas: penarikan pasukan Ukraina dari wilayah yang diklaim Moskow menjadi prasyarat utama untuk menghentikan ofensif militer.
Dengan kata lain: pintu negosiasi terbuka tetapi syarat pokohnya adalah konsesi besar dari pihak Ukraina.
Status negosiasi: Awal dari babak baru, bukan akhir konflik
Kremlin telah mengkonfirmasi bahwa pertemuan akan dilakukan dalam waktu dekat di Moskow, antara Putin dan utusan khusus AS, untuk membahas detail rencana damai itu.
Namun, pada saat yang sama, Rusia tetap mempertahankan tekanan militer menunjukkan bahwa meskipun secara diplomatis “tersedia untuk bicara”, mereka belum berkomitmen untuk menghentikan perang sepenuhnya kecuali kondisi mereka dipenuhi.
Beberapa analisis internasional memperingatkan bahwa sikap “terbuka dengan syarat” itu bisa jadi sekadar taktik: Rusia mungkin menggunakan negosiasi sebagai alat untuk memperkuat posisi tawar, sementara terus melanjutkan agresinya di medan perang.
Reaksi Ukraina dan Tantangan Besar di Depan
Sikap keras Rusia, terutama tuntutan agar Ukraina menyerahkan sejumlah wilayah termasuk kawasan yang kini berada di bawah kendali Kyiv menjadi hambatan besar menuju perdamaian. Putin tidak hanya menuntut penarikan pasukan Ukraina, tetapi juga menganggap kepemimpinan Ukraina saat ini “tidak sah” untuk menandatangani kesepakatan damai.
Dari pihak Ukraina, sejauh ini belum ada konfirmasi bahwa mereka akan memenuhi tuntutan tersebut. Dengan demikian, kendati diplomasi memasuki babak baru, prospek perdamaian yang adil dan definitif tanpa kompromi besar atas kedaulatan Ukraina tetap jauh dari jaminan.
Apa Arti “Good Bye Perang”? Realitas Diplomasi dan Risiko
Munculnya sinyal positif dari Moskow memang membuka harapan akan perdamaian. Tapi kenyataannya menunjukkan bahwa perang belum akan “berakhir” dalam waktu dekat paling tidak, bukan seperti harapan banyak pihak yang menginginkan gencatan senjata cepat dan tanpa syarat.
Rusia menggunakan waktu negosiasi sebagai leverage sekaligus ancaman. Dengan tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayah dan menarik pasukannya, Putin tampaknya mempertahankan opsi militer sebagai alternatif jika diplomasi gagal.
Bagi Ukraina dan dunia internasional ini berarti kesabaran harus sangat panjang, dan tekanan diplomatik jauh dari cukup. Jika Rusia dan Ukraina benar-benar duduk bersama untuk menyepakati perdamaian, banyak hal krusial seperti keamanan, kedaulatan wilayah, status Crimea/Donbas, dan jaminan masa depan Ukraina harus dibicarakan detail.
Kenapa Saat Ini Penting: Peluang dan Bahaya
- Peluang diplomasi: Dengan AS ikut mediasi dan Rusia bersedia mendiskusikan rencana setidaknya secara teori ini bisa menjadi momen terobosan untuk mengakhiri perang yang telah hampir empat tahun berlangsung. Pendekatan baru, yang melibatkan diplomasi intensif, bisa menggiring konflik ke meja negosiasi tanggung jawab internasional.
- Bahaya kompromi berat: Tapi tawaran damai dari Rusia datang dengan syarat yang berpotensi merusak kedaulatan Ukraina. Jika Ukraina menyerah pada tuntutan wilayah, dampaknya bisa besar tidak hanya militer, tetapi juga moral, politik, dan sosial bagi warga Ukraina.
- Risiko manipulasi kekerasan: Ada kekhawatiran bahwa Rusia bisa memanfaatkan jeda diplomasi untuk mengkonsolidasikan posisi maupun melancarkan serangan baru jika negosiasi berlarut-larut menggunakan waktu hening sebagai taktik untuk mendominasi di lapangan.