PETA NARASI – Dari uji coba dengan Mali U-22, Indra Sjafri telah punya gambaran pemain Timnas Indonesia U-22 yang akan dipercaya mentas pada SEA Games 2025 Thailand pada Desember mendatang. Bahkan mantan arsitek Bali United itu menyebut sekitar 80 persen dari sebelas pemain yang berstatus starter saat dikalahkan Mali U-22 dengan skor telak 0-3 lalu pantas berbaju Timnas Indonesia U-22 di ajang multicabor Asia Tenggara nanti.
“Kalau ditanya persentase dari pemain yang main tadi, itu hampir dibilang 80-90 persen saya pikir mereka akan atau berhak untuk masuk skuad SEA Games,” ujar Indra Sjafri.
Nah, dari sebelas starter tersebut ada dua sosok pemain diaspora abroad, yakni kapten tim Ivar Jenner dan Mauro Zijlstra yang bermain penuh. Sementara Dion Markx duduk di bangku cadangan.
“Tak bisa dimungkiri performa pemain abroad lawan Mali U-22 tampil bagus. Terutama Ivar Jenner. Kalau Dion Markx sudah pernah bermain di Piala AFF U-23 dan Kualifikasi Piala Asia U-23 lalu. Jadi wajar bila Indra Sjafri sudah punya gambaran ideal Timnas Indonesia U-22 ke SEA Games nanti,” kata Efendi Aziz. Namun mantan gelandang Arema era Galatama ini menyarankan agar Indra Sjafri berani menurunkan skuat Timnas Indonesia U-22 tanpa pemain abroad pada pertandingan kedua menghadapi Mali U-22.
Keputusan Mengejutkan: Pencoretan Pemain Diaspora
Kritik ini mencuat setelah Indra Sjafri secara resmi mencoret tiga pemain diaspora, yakni Luke Xavier Keet (Yunani), Muhammad Mishbah, dan Reycredo Beremanda, menjelang duel melawan Mali. Alasan utama pencoretan, menurut Indra, adalah karena tim membutuhkan pemain yang “siap pakai” dengan performa matang, bukan sekadar potensi jangka panjang.
Dia menegaskan bahwa waktu persiapan menuju SEA Games 2025 sangat singkat, sehingga skema seleksi harus fokus pada performa terkini. Dalam konferensi pers, Indra menyatakan, “Performance itu adalah performance yang bisa dipakai saat ini, jadi tiga pemain itu kami kembalikan ke klub.”
Pro dan Kontra Dari Kalangan Pengamat
Beberapa pengamat setuju dengan keputusan tersebut. Mereka beralasan bahwa mengandalkan pemain lokal lebih menguntungkan dalam jangka pendek, terutama untuk membangun chemistry antar pemain yang sudah biasa bermain bersama di kompetisi domestik. Selain itu, pemain lokal dianggap lebih mudah diatur dalam rencana jangka pendek seperti uji coba menjelang SEA Games.
Namun, tidak sedikit pula pihak yang mengkritik keras langkah tersebut. Menurut mereka, mencoret pemain berkualitas hanya karena “belum siap pakai” bisa menjadi kesalahan strategis besar. Diaspora, mereka berpendapat, membawa pengalaman berharga dari kompetisi luar negeri yang jauh lebih kompetitif dan bisa menambah kualitas teknis tim U-22 Indonesia. Selain itu, keberadaan pemain-pemain tersebut bisa menjadi katalis untuk menaikkan level tim secara keseluruhan.
Tekanan dari Hasil Laga Pertama Melawan Mali
Tekanan semakin besar setelah kekalahan Indonesia U‑22 di laga pertama melawan Mali U‑22 dengan skor 0–3. Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Indra Sjafri mengklaim bahwa timnya tidak bermain terlalu buruk, meski harus mengakui bahwa kesalahan kecil berpengaruh besar saat menghadapi tim sekelas Mali.
Indra juga mengungkap bahwa dia masih merahasiakan kemungkinan perubahan susunan pemain dan formasi untuk laga kedua. Ini membuka celah bagi pengamat yang menilai bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk merombak formasi dan pola bermain, termasuk dengan mengecualikan lagi pemain diaspora yang dinilai belum adaptif.
Simulasi Formasi Tanpa Diaspora
Beberapa analis pun sudah menawarkan prediksi formasi yang bisa dipakai Indra jika benar-benar mengesampingkan pemain diaspora. Berdasarkan laporan media, prediksi formasi yang mungkin digunakan adalah 4-3-3, dengan susunan pemain lokal yang cukup mapan.
-
Penjaga gawang: Cahya Supriadi menjadi pilihan utama, mengingat stabilitas dan pertumbuhan positifnya.
-
Lini belakang (empat bek): Alfharezzi Buffon, Kadek Arel, Dion Markx, dan Dony Tri Pamungkas menjadi kandidat andalan.
-
Lini tengah (tiga gelandang): Diprediksi akan diisi oleh Ivar Jenner, Arkhan Fikri, dan Rayhan Hannan.
-
Lini depan (tiga penyerang): Rafael Struick, Mauro Zijlstra, dan Hokky Caraka kemungkinan dipasang sebagai tumpuan serangan.
Formasi ini dianggap mampu menjaga keseimbangan antara pertahanan dan serangan, sambil mengoptimalkan chemistry pemain lokal yang lebih sering bermain bersama dalam kompetisi domestik.
Alasan Pengamat: Keberanian Taktis Dibutuhkan
Menurut pengamat, ada beberapa alasan kuat mengapa Indra perlu “berani tanpa diaspora” di laga kedua:
-
Keterlibatan pemain lokal meningkatkan kohesi tim
Pemain lokal lebih sering berlatih bersama, memahami gaya bermain satu sama lain, serta memiliki rasa kebersamaan yang mungkin sulit dibangun di antara pemain dari latar belakang klub berbeda-beda di luar negeri. -
Meminimalkan risiko adaptasi
Pemain diaspora, meskipun berbakat, mungkin belum sepenuhnya adaptif dengan metode latihan atau tuntutan taktik timnas dalam waktu singkat. Mengandalkan pemain lokal bisa menurunkan risiko miskomunikasi atau kesalahan posisi. -
Prioritas performa jangka pendek
Karena target utama adalah SEA Games 2025, fokus pada pemain yang bisa langsung memberikan kontribusi nyata dianggap lebih realistis dibanding menunggu potensi jangka panjang. -
Evaluasi dari uji coba
Laga melawan Mali dipandang sebagai eksperimen taktis. Jika formasi tanpa diaspora bisa membawa hasil lebih baik atau setidaknya permainan lebih solid, itu bisa menjadi sinyal positif bagi seleksi akhir skuad SEA Games.
