PETA NARASI – Awal tahun 2026 yang seharusnya disambut dengan sukacita berubah menjadi suasana mencekam bagi warga di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tepat pada Kamis (1/1/2026), bencana banjir bandang atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai galodo, menerjang kawasan tersebut sebanyak lima kali dalam kurun waktu satu hari.
Rangkaian bencana ini bermula sejak dini hari dan terus berulang hingga sore hari, memaksa ratusan warga melarikan diri dari rumah mereka demi menyelamatkan nyawa.
Detik-Detik Gemuruh di Malam Tahun Baru
Kejadian pertama dilaporkan terjadi sekitar pukul 01.45 WIB, hanya berselang satu jam lebih setelah perayaan malam pergantian tahun. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, yang berada di lokasi saat kejadian mengungkapkan bahwa tanda-tanda bencana diawali dengan bunyi gemuruh yang sangat kuat dari arah hulu sungai di Bukit Barisan.
“Suara gemuruh air dan bebatuan yang beradu terdengar berkali-kali. Warga, termasuk saya, langsung berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi,” ujar Abdul Ghafur.
Meskipun material batu besar sempat tertahan pada gemuruh pertama, aliran air yang membawa lumpur dan kayu akhirnya menjebol sumbatan alami, mengirimkan banjir bandang langsung ke pemukiman di sekitar Sungai Muaro Pisang.
Lima Kali Terjang dalam Sehari
Ketegangan tidak berhenti di dini hari. Kapolsek Tanjung Raya, AKP Muzakar, mengonfirmasi bahwa banjir bandang terjadi secara berturut-turut sebanyak lima kali sepanjang hari Kamis, dari pagi hingga sore hari. Fenomena ini dipicu oleh longsoran di hulu sungai yang membendung aliran air secara temporer sebelum akhirnya pecah dan mengirimkan gelombang material ke bawah.
“Sudah lima kali banjir bandang melanda Muaro Pisang Pasar Maninjau semenjak Kamis pagi sampai sore. Setiap kali terdengar dentuman dari hulu, kami langsung memerintahkan warga dan petugas evakuasi untuk menjauh dari aliran sungai,” jelas AKP Muzakar.
Kondisi ini membuat proses pembersihan material menjadi sangat berisiko. Alat berat yang dikerahkan harus bekerja secara tentatif; mereka akan berhenti total setiap kali ada laporan longsor susulan dari petugas pemantau di bagian hulu.
Dampak Kerusakan dan Pengungsi
Data sementara dari BPBD Kabupaten Agam menunjukkan dampak yang cukup signifikan:
- Rumah Terdampak: Sedikitnya 40 unit rumah warga yang berada di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang mengalami kerusakan akibat terjangkau material lumpur dan bebatuan.
- Akses Transportasi: Jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dan Bukittinggi via Kelok 44 sempat lumpuh total karena tertutup material lumpur setinggi lutut hingga satu meter di titik Pasar Maninjau.
- Jumlah Pengungsi: Sekitar 200 jiwa atau 60 KK kini mengungsi ke lokasi yang lebih aman, seperti mushala, kantor pemerintahan, dan rumah kerabat yang jauh dari bantaran sungai.
Beruntung, berkat kesiapsiagaan warga dan peringatan dini yang cepat, dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian lima kali terjangan banjir bandang ini.
Sejarah Berulang di Akhir Tahun
Bencana ini menambah daftar panjang duka di Kabupaten Agam. Kawasan Maninjau sebelumnya juga telah dilanda banjir bandang berulang sejak akhir November hingga Desember 2025. Salah satu yang terparah terjadi pada 25 Desember 2025, yang juga membawa material kayu dan batu berukuran besar.
Para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelumnya sempat memperingatkan bahwa degradasi ekosistem di bagian hulu menjadi pemicu utama mengapa banjir bandang begitu sering terjadi di wilayah ini saat intensitas hujan meningkat.
Imbauan Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Agam melalui BPBD terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat curah hujan di wilayah Sumatera Barat diprediksi masih tinggi oleh BMKG hingga beberapa hari ke depan. Warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai diminta tidak kembali ke rumah hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman oleh otoritas setempat.
“Kami meminta masyarakat tetap siaga. Jangan mendekati aliran sungai, terutama jika cuaca di bagian hulu terlihat mendung gelap atau terdengar suara gemuruh,” tutup Abdul Ghafur.
