Investor Kripto Indonesia Didominasi Gen Z, Pilih Investasi Jangka Panjang

PETA NARASI – Peta investor aset kripto di Indonesia menunjukkan perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Tidak lagi didorong oleh spekulasi jangka pendek, sektor ini kini mencerminkan karakter investor muda yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang. Data terbaru dari Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 mengungkap bahwa kelompok Gen Z (18–24 tahun) merupakan segmen terbesar dalam populasi investor kripto Indonesia, diikuti oleh milenial muda. Temuan ini menjadi tonggak penting dalam memahami bagaimana aset kripto dipandang dan diadopsi di Tanah Air.

Dominasi Generasi Z dalam Ekosistem Kripto

Laporan yang digagas oleh Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) ini melibatkan 1.851 responden lintas wilayah di Indonesia. Dari survei tersebut, terlihat gambaran kuat bahwa lebih dari separuh investor kripto Indonesia berada di rentang usia 18 hingga 24 tahun (51,8 persen), sementara kelompok usia 25–34 tahun menyumbang 29,8 persen. Secara agregat, segmen usia 18–34 tahun mencapai sekitar 81,6 persen dari total responden.

Dominasi Gen Z ini bukan sekadar aspek statistik belaka. Kelompok usia ini tumbuh di era digital yang menawarkan akses informasi cepat, komunitas online kuat, dan paparan konstan terhadap teknologi finansial baru seperti blockchain dan aset digital. Interaksi sehari-hari dengan teman sebaya serta paparan melalui media sosial turut memperkuat legitimasi kripto sebagai bagian dari percakapan finansial yang nyata.

Analisis lain juga menegaskan tren ini. Menurut DigitalBank.id, data menunjukkan bahwa sekitar 81,6 persen investor kripto Indonesia berada dalam usia 18–34 tahun, mengindikasikan peran sentral Gen Z dan milenial muda dalam adopsi aset digital.

Persepsi Kripto: Bukan Sekadar Tren, tapi Investasi

Banyak asumsi lama menyebut aset kripto sebagai arena spekulatif yang digandrungi karena tren naiknya harga jangka pendek. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan tren berbeda. Laporan dari Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 mengungkap bahwa mayoritas investor Indonesia yakni sekitar 58,2 persen menggunakan kripto untuk tujuan investasi jangka panjang. Ini berarti sebagian besar responden tidak hanya berharap keuntungan cepat, tetapi memiliki pandangan strategis terhadap aset mereka.

Hanya sekitar 20,2 persen responden yang memanfaatkan kripto untuk trading jangka pendek. Motivasi lain seperti lindung nilai terhadap inflasi, spekulasi cepat, atau transfer dana berada pada porsi yang lebih kecil. Temuan ini menguatkan anggapan bahwa kripto di Indonesia kini mulai diperlakukan setara dengan instrumen investasi lain seperti saham, reksa dana, atau bahkan emas.

Aset Favorit Investor Muda

Preferensi investasi juga mencerminkan pendekatan yang lebih matang. Data menunjukkan bahwa investor kripto Indonesia cenderung memilih aset dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, seperti Bitcoin, USDT, Solana, Ethereum, BNB, dan XRP. Aset ini dipandang sebagai instrumen investasi yang lebih stabil ketimbang token kecil atau memecoin yang lebih fluktuatif.

Kecenderungan memilih aset mayor tersebut mencerminkan kesadaran risiko yang lebih tinggi serta pemahaman terhadap fundamental proyek kripto tertentu. Sementara aset dengan potensi spekulatif tetap menarik minat sebagian kecil investor, namun tidak menjadi inti strategi mayoritas.

Distribusi Geografis Investor Kripto

Dari sisi lokasi, investor kripto di Indonesia masih terkonsentrasi di wilayah Jawa–Bali, yang menyumbang lebih dari 77 persen responden. Faktor kepadatan penduduk, infrastruktur digital yang lebih baik, serta tingkat literasi finansial yang relatif tinggi di wilayah ini menjadi alasan dominannya. Meski demikian, wilayah seperti Sumatera mulai menunjukkan peningkatan adopsi, terutama di kota-kota besar yang merupakan pusat ekonomi regional.

Mengubah Citra Kripto di Masyarakat

Dominasi Gen Z dengan orientasi investasi jangka panjang memberikan dampak signifikan terhadap citra kripto di masyarakat. Tidak lagi sekadar tema diskusi teknologi atau fenomena spekulatif, kripto kini mulai dilihat sebagai alternatif investasi serius. Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya literasi finansial di kalangan generasi muda yang semakin memahami konsep diversifikasi portofolio dan manajemen risiko.

Lebih lanjut, laporan menunjukkan adanya partisipasi pengguna dalam berbagai aktivitas berbasis Web3, seperti staking, airdrops, dan eksplorasi teknologi blockchain lainnya. Ini menandakan bahwa investor tidak hanya fokus pada harga, tetapi juga mempelajari ekosistem yang lebih luas di balik aset digital.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Meski menunjukkan kematangan perilaku investasi, pasar kripto Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Penggunaan kripto untuk utilitas sehari-hari, seperti alat pembayaran, masih relatif rendah karena sistem pembayaran digital lokal sudah cukup efisien dan kondisi makroekonomi yang stabil. Hal ini menunjukkan bahwa kripto lebih kuat sebagai aset investasi daripada alat transaksi.

Selain itu, meskipun Gen Z memiliki orientasi investasi jangka panjang, laporan lain mengingatkan bahwa literasi finansial di kalangan generasi ini masih perlu diperkuat, khususnya terkait perencanaan keuangan jangka panjang dan manajemen risiko. Upaya edukasi berkelanjutan dari regulator, komunitas, dan platform kripto menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan sehat dalam jangka panjang.

By admin