Israel Makin Terisolasi, Akademisi dan Lembaga Riset Diboikot Internasional

PETA NARASI – Sejumlah laporan terbaru menunjukkan bahwa Israel menghadapi isolasi akademik dan ilmuwan yang semakin parah sejak konflik di Gaza memuncak. Alih-alih mereda setelah gencatan senjata, tekanan bagi lembaga penelitian dan akademisi Israel justru meningkat dari penghentian Kerja sama riset hingga penolakan hak publikasi dan kolaborasi internasional.

Menurut laporan yang dirilis pada 24 November 2025 oleh tim pemantau “Academic Boycott of Israel Monitoring Team” atas nama Asosiasi Rektor Universitas di Tel Aviv, jumlah insiden boikot akademik telah “melonjak dua kali lipat” dibanding tahun sebelumnya.

Total kasus boikot sejak 2024 telah melampaui angka 1.000. Tipe boikot pun beragam: 57 % menyasar peneliti individu (misalnya dieksklusi dari kelompok riset internasional), 22 % adalah pemutusan hubungan antar-institusi, 7 % berasal dari asosiasi profesional, dan 14 % berhubungan dengan penghentian program pertukaran mahasiswa atau postdoktoral.

Laporan itu memperingatkan bahwa isolasi akademik semacam ini bukan sekadar gangguan jangka pendek melainkan potensi ancaman strategis jangka panjang terhadap posisi internasional pendidikan tinggi Israel.

Tumbangnya Dana dan Proyek Riset

Dampak boikot juga terasa pada sisi pendanaan dan kerjasama riset. Misalnya, program Horizon Europe sumber utama dana riset kolaboratif lintas negara telah memutus banyak kemitraan dengan akademisi dan institusi Israel. Dalam tahun 2025, hanya 9 peneliti Israel berhasil mendapatkan dana dari program tersebut, padahal di tahun sebelumnya jumlahnya jauh lebih besar.

Penurunan signifikan ini bukan hanya soal jumlah proyek yang disetujui, tetapi juga hilangnya akses jangka panjang ke jaringan penelitian internasional dan pengurangan aliran dana penting bagi inovasi dan akademik di Israel.

Sumber dari The Marker bagian ekonomi dari koran Israel Haaretz menggambarkan situasi ini sebagai “kerusakan reputasi dan finansial yang drastis” bagi universitas-universitas Israel.

Pemutusan Aliansi dan Partisipasi Institusional

Boikot tidak hanya datang dari universitas tertentu, tetapi juga dari asosiasi keilmuwan global. Misalnya, International Sociological Association (ISA) memutus keanggotaan kolektif Israeli Sociological Society, merespons tekanan dari akademisi Maroko dan dunia Muslim.

Selain itu, sejumlah lembaga besar seperti CERN laboratorium fisika partikel ternama dunia mendapat desakan agar menghentikan kolaborasi dengan peneliti Israel. Pada Oktober 2025, muncul petisi dari ilmuwan internasional yang mendesak CERN untuk menindaklanjuti langkah serupa seperti ketika Rusia dikeluarkan dari kerja sama setelah invasi Ukraina.

Aksi-aksi ini mencerminkan semakin melebar dan mendalamnya upaya “normalisasi” boikot ilmuwan dan institusi Israel di seluruh disiplin ilmu dan wilayah geografis.

Penolakan terhadap Argumen Kebebasan Akademik

Di sisi lain, ada pula kritik terhadap boikot ini dengan alasan bahwa boikot menyasar kebebasan akademik. Organisasi seperti The Royal Society di Inggris dan Universities UK (UUK) menyatakan bahwa mereka tidak mendukung “boikot menyeluruh terhadap ilmuwan” karena hal itu akan melanggar prinsip kebebasan berpikir dan pertukaran ilmiah.

Para penentang boikot menilai bahwa menyetop kerja sama akademik secara kolektif justru menutup ruang dialog, diam-diam membungkam suara-suar moderat, dan menghambat kemajuan riset global. Argumentasi ini juga dikemukakan oleh beberapa universitas Israel yang menyatakan bahwa akademia mereka secara institusional independen dari pemerintah.

Namun bagi para pendukung boikot, tindakan tersebut bukan soal kebencian terhadap individu atau ilmuwan, melainkan penolakan terhadap struktur institusional yang dianggap mendukung atau memungkinkan pelanggaran hak asasi manusia di Palestina termasuk pembangunan teknologi militer dan dukungan logistik bagi operasi militer Israel.

Situasi di Lapangan: Isolasi yang Nyata

Sejumlah universitas di Eropa dari Belanda, Belgia, Spanyol hingga Italia telah menghentikan kemitraan riset, menarik diri dari proyek bersama, dan membatalkan undangan bagi akademisi Israel.

Contoh nyata: banyak peneliti Israel yang mendapati diri mereka dikeluarkan dari grup riset internasional, ditolak untuk presentasi konferensi, atau tidak diundang lagi dalam kolaborasi ilmiah baru.

Satu laporan menyebut bahwa jumlah kasus boikot di universitas Israel meningkat 3 kali lipat dalam satu tahun terakhir. Bagi banyak akademisi dan mahasiswa Israel, itu berarti kehilangan akses ke jaringan global, peluang pendanaan, publikasi internasional, dan kolaborasi riset yang dalam jangka panjang bisa menghancurkan kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam komunitas ilmiah dunia.

By admin