Juara Dunia Moto2 Ungkap Rahasia RC213V Rem Karbon Honda Adalah Cobaan Terberat Moreira

PETA NARASI – Hanya berselang dua hari setelah mengunci gelar Juara Dunia Moto2 2025, pembalap asal Brasil, Diogo Moreira, langsung dihadapkan pada tantangan terberat dalam kariernya: debut menunggangi motor prototipe Honda RC213V pada Tes Resmi MotoGP di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia.

Rider muda yang akan memperkuat LCR Honda pada musim 2026 ini menutup sesi pengujian hari itu di posisi ke-21 dari 22 pembalap, dengan catatan waktu terbaik 1’31.197 detik, terpaut 1,824 detik dari rider tercepat. Namun, catatan waktu bukanlah fokus utama bagi rookie yang baru pertama kali menyentuh mesin MotoGP ini. Moreira secara jujur mengungkapkan bahwa transisi dari Moto2 ke MotoGP, khususnya dengan motor Honda, menghadirkan kejutan besar, terutama pada satu aspek krusial: sistem pengereman.

Awalnya Saya Sedikit Takut

Moreira, yang meraih gelar Juara Dunia Moto2 pertamanya untuk Brasil, mengakui bahwa peningkatan power yang ekstrem dari motor Honda RC213V membuatnya sempat merasa canggung dan takut, terutama saat harus membuka gas penuh.

“Ini adalah dunia yang benar-benar baru, dan tentu saja, pada awal run pertama, saya sedikit takut,” ujar Moreira setelah menuntaskan total 57 lap pada hari tes tersebut. “Sulit untuk membuka gas penuh saat keluar dari tikungan, terutama di trek lurus. Awalnya saya merasa canggung, tetapi setelah beberapa run, semuanya terasa jauh lebih baik, dan saya mulai menikmatinya.”

Namun, di antara semua tantangan adaptasi mulai dari aerodinamika, ban Michelin, hingga perangkat elektronik yang rumit Moreira menunjuk sistem pengereman sebagai kendala utama yang paling sulit ia taklukkan.

Rem Karbon: Jurang Pemisah Paling Curam

Motor Moto2 menggunakan rem baja yang menawarkan feel pengereman yang lebih tradisional dan akrab bagi para rider. Sebaliknya, motor MotoGP menggunakan rem cakram karbon yang menghasilkan daya deselerasi luar biasa, tetapi sangat bergantung pada suhu optimal dan membutuhkan teknik pengereman yang jauh lebih agresif dan presisi.

“Pada akhirnya, saya pikir yang paling sulit dipahami adalah rem karbon,” tegas Moreira. “Kita perlu memanaskan rem dengan sangat baik. Selain itu, di awal sulit untuk memahami kapan dan di mana saya harus menghentikan motor.”

Pengereman adalah salah satu area paling kritis di MotoGP, yang sering menjadi kunci untuk mencetak waktu putaran yang cepat. Moreira menjelaskan bahwa ia masih dalam proses mencari batas late braking pada motor prototipe yang berat dan bertenaga besar tersebut. Keberhasilan dalam memaksimalkan rem karbon akan menentukan apakah seorang rookie bisa bersaing dengan para veteran.

“Anda harus membobolnya lebih dalam dan lebih kuat, dan saya masih mencari titik berhentinya,” tambahnya, menunjukkan betapa besarnya perbedaan yang harus ia hadapi setelah bertahun-tahun terbiasa dengan karakteristik pengereman Moto2.

Adaptasi Fisik dan Ekspektasi Tim

Selain tantangan teknis, Moreira juga menyoroti kebutuhan adaptasi fisik yang mendesak. Motor MotoGP yang jauh lebih cepat, stabil, dan berat saat menikung membutuhkan kekuatan fisik yang luar biasa, terutama di area leher dan lengan.

“Kami harus bekerja keras selama musim dingin,” kata Moreira, mengacu pada liburan off-season yang akan datang. “Masih banyak bagian tubuh saya yang belum siap untuk menahan tuntutan fisik motor MotoGP ini. Saya harus melatih leher dan lengan agar bisa mengendalikan motor ini sepanjang balapan.”

Meskipun Moreira tidak mencetak waktu yang sensasional, performanya di hari debut tetap mendapat apresiasi. Menyelesaikan 57 lap tanpa kecelakaan berarti ia telah mengumpulkan banyak data berharga dan mulai memahami dasar-dasar mengendalikan motor kelas utama.

Debut Moreira ini menarik perhatian khusus mengingat Honda sedang berjuang keras untuk bangkit dari masa sulit. Kehadiran rookie berbakat sepertinya diharapkan dapat membawa energi baru ke dalam proyek RC213V.

Progres Positif di Akhir Sesi

Meskipun kesulitan dengan rem dan gas di awal hari, Moreira menutup debutnya dengan run terakhir yang jauh lebih positif, mengisyaratkan bahwa proses adaptasinya berlangsung cepat.

“Pada akhirnya, saya sangat menikmatinya. Saya rasa sesi terakhir jauh lebih baik. Kami berhasil melakukan pekerjaan yang sangat baik hari ini,” tutup Moreira dengan nada optimis.

Dengan tantangan rem karbon yang sudah teridentifikasi jelas, fokus Diogo Moreira selama musim dingin akan tertuju pada peningkatan kekuatan fisik dan pemahaman teknis yang mendalam terhadap mesin Honda-nya. Juara Dunia Moto2 ini tahu, bahwa untuk menjadi kompetitif di MotoGP 2026, jurang perbedaan terbesar yang harus ia lewati bukanlah power mesin, melainkan seni menghentikan monster 300 hp tersebut.

By admin