PETA NARASI – Dalam sebuah operasi militer berkekuatan tinggi yang menandai eskalasi tajam dalam hubungan geopolitik, pasukan khusus Amerika Serikat bersama Penjaga Pantai AS (US Coast Guard) resmi menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia, Marinera (sebelumnya bernama Bella 1), di perairan Samudra Atlantik Utara pada Rabu, 7 Januari 2026.
Penyitaan ini mengakhiri pengejaran dramatis selama lebih dari dua minggu yang dimulai dari lepas pantai Venezuela hingga ke perairan dekat Islandia dan Skotlandia. Langkah berani ini diperintahkan langsung di bawah kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang semakin agresif terhadap negara-negara yang dianggap melanggar sanksi internasional, khususnya dalam perdagangan minyak “gelap”.
Kronologi Pengejaran dan Penyitaan
Drama di laut lepas ini bermula pada pertengahan Desember 2025. Kapal Marinera, yang saat itu masih dikenal sebagai Bella 1, terdeteksi mencoba menghindari blokade angkatan laut AS di dekat Venezuela. Kapal tersebut diduga merupakan bagian dari “armada bayangan” (shadow fleet) yang digunakan untuk mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran dan Venezuela.
Pada 20 Desember 2025, kru kapal dilaporkan sempat menolak upaya pemeriksaan oleh militer AS di dekat perairan Venezuela. Tak lama setelah insiden tersebut, kapal mengubah identitasnya secara mendadak: mengganti nama menjadi Marinera, mengubah registrasinya ke Rusia, dan krunya dilaporkan mengecat bendera Rusia di badan kapal untuk mendapatkan perlindungan diplomatik dari Moskow.
Namun, upaya tersebut gagal menghentikan pengejaran. Kapal Penjaga Pantai AS, USCGC Munro, terus membayangi Marinera saat ia melintasi Atlantik menuju pelabuhan Rusia di Arktik. Operasi puncaknya terjadi pada 7 Januari 2026, ketika pasukan khusus AS melakukan serangan udara melalui helikopter dan menaiki kapal di wilayah perairan internasional antara Islandia dan Inggris.
Keterlibatan Militer dan Dukungan Sekutu
Operasi penyitaan ini tidak dilakukan sendirian. Laporan intelijen menyebutkan bahwa militer Inggris (Royal Air Force) turut memberikan dukungan pengintaian menggunakan pesawat P-8 Poseidon dan Rivet Joint untuk memantau keberadaan kapal selam Rusia yang dilaporkan dikirim Moskow untuk melindungi tanker tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan melalui pernyataan resminya bahwa blokade minyak terhadap Venezuela tetap berlaku penuh secara global.
“Blokade minyak Venezuela yang dikenai sanksi tetap berlaku penuh, di mana pun di dunia. Kami tidak akan membiarkan armada bayangan melanggar kedaulatan hukum kami,” tegas Hegseth.
Reaksi Keras Moskow dan Dampak Geopolitik
Kementerian Transportasi Rusia mengecam keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan “pembajakan internasional” dan pelanggaran terhadap Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Moskow mengklaim bahwa kapal tersebut terdaftar secara sah dan AS tidak memiliki yurisdiksi untuk menggunakan kekerasan di perairan internasional.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menuntut jaminan keamanan bagi seluruh kru kapal dan memperingatkan adanya konsekuensi serius terhadap hubungan bilateral yang sudah retak. Sementara itu, pihak Ukraina menyambut baik langkah tegas AS, menyebutnya sebagai bentuk kepemimpinan yang nyata dalam menghadapi manuver Rusia di laut.
Mengapa Kapal Ini Begitu Penting?
Meskipun laporan awal menyebutkan bahwa tanker Marinera saat ini dalam kondisi kosong (tidak membawa muatan minyak), penyitaan ini memiliki makna simbolis dan strategis yang besar:
- Penegakan Sanksi: AS ingin menunjukkan bahwa perubahan bendera atau registrasi kapal di tengah laut tidak akan melindungi kapal dari sanksi.
- Blokade Venezuela: Operasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah AS melakukan intervensi militer di Venezuela untuk menggulingkan rezim Nicolás Maduro.
- Pesan untuk China dan Iran: Langkah ini merupakan peringatan bagi negara lain yang masih melakukan transaksi energi dengan negara-negara di bawah sanksi AS.
Hingga saat ini, kapal Marinera sedang dikawal menuju pelabuhan yang dirahasiakan untuk penyelidikan lebih lanjut, dan para krunya terancam menghadapi tuntutan pidana di pengadilan federal Amerika Serikat.
