Modernisasi Pertanian di 33 Provinsi Strategi Kementan Jaga Swasembada Pangan

PETA NARASI – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi memulai babak baru dalam transformasi sektor agraria nasional. Di bawah arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementan memperkuat komitmennya untuk menjaga swasembada pangan dengan mempercepat modernisasi pertanian melalui pembentukan kelembagaan baru di seluruh wilayah Indonesia.

Pada awal Januari 2026, Kementan meresmikan pembentukan 33 Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian yang tersebar di 33 provinsi. Langkah ini merupakan respons nyata terhadap tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim yang kian ekstrem. Dengan pagu anggaran tahun 2026 yang mencapai Rp40,145 triliun, fokus utama pemerintah adalah memastikan efisiensi produksi dan peningkatan kesejahteraan petani melalui teknologi mutakhir.

Transformasi Tradisional ke Mekanisasi Penuh

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada metode tradisional jika ingin mencapai kemandirian pangan yang kokoh. Menurutnya, modernisasi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen.

“Kita tidak boleh setengah-setengah dalam meningkatkan produksi pangan. Semua harus berbasis inovasi dan teknologi. Dengan teknologi, produktivitas naik, indeks pertanaman meningkat, sementara biaya produksi turun secara signifikan. Inilah esensi dari pertanian modern sebuah transformasi dari sistem tradisional ke mekanisasi penuh,” ujar Mentan Amran dalam kunjungannya ke Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Transformasi ini melibatkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) generasi terbaru yang lebih cerdas. Kementan kini tengah mengembangkan teknologi otonom berbasis baterai dan robotik. Teknologi combine harvester dan rice transplanter yang awalnya berbasis solar mulai dialihkan ke energi listrik (baterai) yang diklaim mampu menghemat biaya operasional hingga 60%.

Peran Strategis 33 Balai Besar

Pembentukan 33 Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 39 Tahun 2025. Badan ini berada di bawah koordinasi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP). Tugas utamanya adalah melakukan identifikasi kebutuhan teknologi spesifik lokasi, pengujian, hingga diseminasi paket teknologi pertanian modern kepada para petani.

Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa Balai Besar ini akan menjadi ujung tombak dalam memproduksi benih dan bibit sumber yang unggul dan tersertifikasi.

“Kehadiran Balai Besar di setiap provinsi memastikan bahwa setiap daerah memiliki akses langsung terhadap inovasi. Kami ingin petani di daerah memiliki pendampingan teknis yang kuat, mulai dari pemilihan benih hingga penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan drone untuk pemupukan,” jelas Fadjry.

Swasembada Beras dan Ekspansi Komoditas

Hingga akhir tahun 2025, Indonesia mencatatkan prestasi gemilang dengan capaian produksi beras tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 33,19 juta ton. Berangkat dari keberhasilan ini, pada tahun 2026 pemerintah memperluas fokus swasembada pada komoditas lain seperti gula, jagung, telur, dan daging ayam.

Program unggulan seperti Cetak Sawah dan Optimalisasi Lahan (Oplah) terus digencarkan, terutama di wilayah Merauke dan Kalimantan Tengah. Pemanfaatan lahan rawa yang dulunya dianggap tidak produktif, kini diubah menjadi lumbung pangan melalui sistem irigasi modern dan pompanisasi.

Sinergi lintas kementerian juga menjadi kunci. Kolaborasi antara Kementan dan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) dalam rehabilitasi jaringan irigasi nasional menjadi fondasi utama. Pasalnya, ketersediaan air yang teratur sangat bergantung pada infrastruktur irigasi yang mampu menjangkau lahan-lahan pertanian yang selama ini hanya mengandalkan tadah hujan.

Melibatkan Generasi Milenial dan Gen Z

Salah satu tantangan terbesar dalam modernisasi pertanian adalah regenerasi petani. Mentan Amran melihat teknologi sebagai daya tarik utama bagi generasi muda untuk kembali ke sektor pertanian. Dengan sistem pertanian berbasis digital, petani muda tidak lagi harus bekerja di bawah terik matahari secara manual.

“Mimpi kita adalah generasi milenial dan Gen Z bisa mengolah lahan, menanam, hingga panen hanya dari bawah pohon dengan kontrol jarak jauh atau autonomous system. Teknologi AI akan memudahkan mereka memonitor kesehatan tanaman lewat ponsel pintar. Ini akan mengubah citra pertanian dari sektor yang ‘kotor dan melelahkan’ menjadi sektor yang ‘keren dan menguntungkan’,” tambah Mentan.

Anggaran Besar untuk Hasil Nyata

Dukungan legislatif terhadap langkah Kementan juga terlihat dari penetapan anggaran yang mencapai puluhan triliun rupiah. Anggota DPR RI menekankan bahwa anggaran sebesar Rp40 triliun tersebut harus dikelola secara transparan dan tepat sasaran. Fokus penggunaan anggaran tahun 2026 meliputi:

  1. Penguatan Infrastruktur: Perbaikan irigasi dan pembangunan jalan usaha tani.
  2. Subsidi Pupuk: Memastikan ketersediaan pupuk yang tepat jumlah dan tepat waktu bagi petani.
  3. Pengembangan Alsintan: Pengadaan ribuan unit traktor, mesin tanam, dan mesin panen modern.
  4. Diversifikasi Pangan: Mengembangkan pangan lokal sesuai karakteristik daerah (seperti sagu di Papua atau jagung di NTT) untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

By admin