Saham Properti Indonesia Kini Termurah di Asia Tenggara

PETA NARASI – Sejumlah analis pasar modal menyebut bahwa saham‑saham sektor properti Indonesia kini diperdagangkan pada valuasi yang sangat rendah dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara. Dalam riset industri terbaru, saham properti di Indonesia tercatat memiliki rasio price‑to‑earnings (P/E) dan price‑to‑book value (PBV) yang lebih rendah daripada mayoritas pasar regional menjadikannya salah satu yang “termurah” di kawasan.

Menurut data riset, rata‑rata forward P/E 12 bulan untuk saham properti Indonesia berada di sekitar sekitar P/E 7x, sementara PBV berada di level rendah menunjukkan bahwa harga saham properti tengah jauh lebih murah dibandingkan nilai buku perusahaan. Hal ini dipandang oleh sejumlah analis sebagai sinyal undervaluation yang signifikan, terutama bila mempertimbangkan fundamental aset‑aset yang dimiliki emiten properti domestik.

Mengapa Valuasi Saham Properti Turun?

Beberapa faktor utama yang membuat saham properti Indonesia turun ke level valuasi rendah antara lain:

  1. Sentimen Pasar Global dan Regional
    Menguatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk perlambatan pertumbuhan di beberapa ekonomi utama, membuat risiko pasar meningkat. IHSG sendiri sempat melemah mengikuti bursa kawasan Asia dan global, sehingga tekanan pada saham‑saham cyclical termasuk properti makin terasa.
  2. Permintaan Kredit dan Suku Bunga
    Permintaan konsumen terhadap kredit properti sempat melemah akibat suku bunga kredit yang relatif tinggi. Meski bank‑bank seperti BCA sempat menurunkan suku bunga KPR di tenor tertentu pada pertengahan 2025, tekanan biaya pinjaman masih dirasakan pelaku pasar.
  3. Ekonomi Domestik Mengalami Tekanan
    Selain faktor global, kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya stabil telah memengaruhi ekspektasi investor terhadap prospek pertumbuhan sektor properti. Ketidakpastian regulasi dan arah kebijakan moneter turut memperlemah daya tarik saham properti meski fundamental jangka panjang tetap kuat.

Dibandingkan Asia Tenggara: Peluang dan Risiko

Dalam konteks cross‑country, saham properti Indonesia dinilai lebih murah dibandingkan indeks properti di negara ASEAN lain seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, atau Singapura. Rasio valuasi yang lebih rendah ini sering kali dipandang sebagai “diskon pasar”, yang bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang jika fundamental sektor properti pulih.

Namun, risiko tetap melekat. Analis mencatat bahwa meskipun valuasi murah, pasar properti memang masih menghadapi tantangan struktural seperti tingkat permintaan yang lambat, kelebihan pasokan di beberapa wilayah perkotaan, dan ketidakpastian regulasi pembangunan yang memengaruhi keputusan investasi.

KKGI: Peran dan Pengaruhnya di Pasar

Sementara fokus riset valuasi biasanya tertuju pada saham‑saham properti murni seperti pemain besar SMRA, BSDE, dan PWON, pergerakan saham Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) juga relevan dalam gambaran pasar saham Indonesia yang cenderung “murah”.

KKGI, meskipun bukan emiten properti murni, dikenal memiliki eksposur aset real estate melalui diversifikasi portofolio termasuk pengembangan lahan. Hal ini membuat beberapa investor memandang harga saham KKGI sebagai refleksi sentimen risiko pasar yang lebih luas, bukan hanya sektor tambang atau energi. Selain itu, KKGI pernah mencatat distribusi dividen tunai (Rp17 per saham) yang menarik minat sebagian investor pada Desember 2025, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham walau dalam kondisi pasar menantang.

Apakah Ini Momentum Beli? Pendapat Analis

✔️ Prospek Positif:

  • Banyak analis melihat valuasi saham properti Indonesia sebagai peluang entry point menarik untuk investor jangka panjang, terutama jika ekonomi domestik mulai stabil dan permintaan kredit properti meningkat.
  • Diskon valuasi yang signifikan berpotensi memberikan potensi imbal hasil tinggi bila sentimen pasar pulih.

Risiko yang Perlu Diwaspadai:

  • Risiko global seperti volatilitas pasar modal, perubahan kebijakan moneter di AS dan Eropa, serta ketidakpastian domestik bisa terus menekan saham properti lebih jauh.
  • Penguatan Rupiah atau lonjakan suku bunga bisa memengaruhi permintaan pembiayaan residensial.
  • Aksi korporasi seperti divestasi, perubahan regulasi, atau dinamika kepemilikan asing pada saham dimungkinkan memicu volatilitas tambahan.

Kesimpulan

Valuasi saham sektor properti Indonesia, termasuk yang terkait aset lahan seperti KKGI, menghadirkan skenario pasar yang unik di Asia Tenggara saat ini:

  • Valuasi sangat murah diukur dengan P/E dan PBV jika dibandingkan dengan pasar regional  meningkatkan daya tarik fundamental investasi jangka panjang.
  • Sentimen risiko tetap kuat, terutama karena tekanan global dan domestik, membuat keputusan investasi perlu selektif dan berbasis analisis yang matang.
  • Saham seperti KKGI mencerminkan persepsi pasar yang lebih luas tentang risiko dan peluang investasi di Indonesia, sehingga pergerakannya bisa menjadi indikator sentimen investor.

By admin