Terpojok Narasi 'Broken Strings', Roby Tremonti Ungkap Alasan Akhirnya Klarifikasi

PETA NARASI – Jagat media sosial tanah air tengah dihebohkan dengan perilisan memoar digital berjudul Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans. Buku yang telah diakses puluhan juta kali sejak akhir 2025 hingga awal 2026 ini mengungkap kisah kelam masa remaja Aurelie sebagai korban child grooming dan hubungan toksik. Meski Aurelie menggunakan nama samaran “Bobby” untuk sosok antagonis dalam bukunya, publik dengan cepat mengarahkan telunjuk kepada mantan suaminya, Roby Tremonti.

Merasa namanya dicemarkan dan menjadi sasaran kemarahan netizen (cancel culture), Roby Tremonti akhirnya muncul ke hadapan publik pada pertengahan Januari 2026 untuk memberikan klarifikasi tegas.

Alasan di Balik Klarifikasi: Nama Baik dan Pekerjaan

Alasan utama Roby Tremonti muncul ke publik adalah karena ia merasa narasi dalam buku tersebut sangat spesifik merujuk pada dirinya. Dalam sebuah konferensi pers di kawasan Jawa Barat pada Selasa (13/1/2026), Roby menyatakan bahwa jejak digital tidak bisa berbohong.

“Di buku itu disebutkan tokoh Bobby memaksa Aurelie menikah, dan jejak digital di internet mencatat bahwa saya pernah menikah dengannya. Jadi, wajar jika saya merasa tersindir dan perlu meluruskan tuduhan tersebut,” ujar Roby kepada awak media.

Roby mengaku bahwa selama 16 tahun terakhir ia memilih diam untuk menghindari konflik. Namun, dampak dari viralnya buku ini telah melampaui batas kesabarannya. Ia mengaku menerima ribuan hujatan, ancaman pembunuhan, hingga label negatif seperti “pedofil” dan “pelaku KDRT” di media sosial. Hal ini diakuinya telah mengganggu kesehatan mental dan menghambat keberlangsungan kariernya di dunia hiburan.

Membantah Tudingan Pemaksaan Nikah dengan Bukti Foto

Salah satu poin paling krusial dalam buku Broken Strings adalah klaim bahwa sosok Bobby memanipulasi Aurelie untuk menikah di usia yang sangat muda (18 tahun). Menanggapi hal ini, Roby membawa bukti berupa foto-foto dokumentasi pernikahan mereka yang terjadi pada 10 Oktober 2011.

Roby menegaskan bahwa pernikahan tersebut dilakukan secara Katolik dan melalui proses resmi gereja, seperti penyelidikan Kanonik, yang menurutnya tidak mungkin dilakukan di bawah paksaan atau dalam waktu singkat.

“Kalau lihat foto ini, nggak mungkin kan terpaksa menikahnya. Ini ada bukti undangan dan surat pernikahan,” tegasnya sembari menunjukkan bukti fisik kepada wartawan.

Menepis Isu KDRT dan Grooming

Roby juga secara terbuka membantah tuduhan melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ia menantang pihak manapun untuk menunjukkan bukti laporan kepolisian jika memang kekerasan itu pernah terjadi di masa lalu. Baginya, narasi yang dibangun di media sosial saat ini hanyalah “bola salju” yang terus membesar tanpa dasar hukum yang kuat.

Mengenai isu child grooming istilah yang menggambarkan upaya orang dewasa menjerat anak di bawah umur ke dalam hubungan manipulatif Roby merasa tuduhan itu sangat menyakitkan. Ia berdalih bahwa hubungan mereka di masa lalu didasari oleh perasaan suka sama suka, meskipun saat itu ia memang berusia jauh lebih tua dari Aurelie.

Pesan untuk Aurelie: Fokus pada Kandungan

Di tengah suasana yang memanas, Roby juga memberikan pernyataan yang mengejutkan dengan menyinggung kondisi Aurelie saat ini yang sedang hamil (hasil pernikahannya dengan Tyler Bigenho). Roby meminta Aurelie untuk berhenti menyulut drama masa lalu dan lebih fokus pada kesehatan janinnya.

“Aurelie sekarang ya, perhatikan kandungan kamu. Jangan banyak, ngapain sibuk-sibuk kayak gini? Lebih fokus ke kamu kan lagi hamil,” tuturnya.

Roby menekankan bahwa ia tidak berniat jahat, namun ia merasa terpaksa bicara karena terus-menerus disudutkan oleh opini publik yang dibangun melalui buku tersebut.

Langkah Hukum di Depan Mata

Tidak main-main, Roby Tremonti menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum jika Aurelie terus memberikan pernyataan yang dianggapnya sebagai fitnah. Ia bahkan sempat meminta bantuan kepada Denny Sumargo untuk memberikan ruang klarifikasi yang lebih panjang di kanal YouTube-nya guna membersihkan namanya secara total.

Perseteruan ini menjadi pengingat bagi publik mengenai kompleksitas isu masa lalu di era digital, di mana sebuah karya sastra atau memoar dapat dengan cepat berubah menjadi alat advokasi sekaligus pemicu sengketa hukum yang serius.

By admin