PETA NARASI – Sebuah video yang memperlihatkan oknum anggota TNI dan Polri tengah menuding seorang pedagang es gabus menjual produk yang terbuat dari bahan spons atau busa kasur menjadi viral di media sosial dan memicu reaksi luas, khususnya di kalangan warganet dan masyarakat umum. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Kelurahan Kampung Rawa dan Kemayoran, Jakarta Pusat. Tuduhan yang sempat membuat gaduh akhirnya berujung pada permintaan maaf dari aparat yang bersangkutan setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa es gabus tersebut aman dikonsumsi.
Kejadian bermula ketika beberapa warga merekam video di mana seorang pedagang es gabus tradisional diinterogasi oleh anggota TNI dan Polri. Dalam rekaman tersebut, terlihat tangan aparat memegang potongan es gabus sambil menyatakan bahwa makanan itu bukan terbuat dari tepung hunkwe seperti biasanya, namun “bahannya spons” yang berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi, terutama oleh anak-anak. Salah satu oknum bahkan terdengar memberikan komentar menyuruh pedagang dan publik berhati‑hati terhadap makanan tersebut.
Video itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial sejak akhir pekan lalu dan menuai respons dari banyak pihak. Banyak netizen mempertanyakan kesigapan aparat dalam mengambil kesimpulan sebelum ada pemeriksaan resmi dari pihak berwenang. Selain itu, tindakan aparat yang seolah memaksa pedagang yang menurut beberapa laporan berusia lanjut untuk mencicipi dagangannya sendiri turut mendapat kecaman.
Kronologi Lengkap Kejadian
Menurut keterangan yang dirilis aparat dan media, kejadian bermula pada Sabtu, 24 Januari 2026 di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Aparat menerima laporan dari masyarakat yang mencurigai bahwa salah satu jajanan tradisional yang dijual oleh pedagang setempat mengandung bahan berbahaya. Respon cepat dari aparat kepolisian dan TNI dilakukan sebagai bentuk upaya pengamanan pangan dan edukasi kepada warga supaya tidak ada konsumen yang dirugikan. Mereka mendatangi lokasi dan secara spontan memeriksa serta mendokumentasikan aktivitas tersebut.
Namun demikian, pemeriksaan yang dilakukan secara langsung di lokasi ternyata belum disertai dengan uji laboratorium atau verifikasi dari instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, atau Labfor Polri sebelum tuduhan itu disampaikan kepada publik. Kekeliruan ini amat disayangkan oleh banyak pihak, terutama karena langsung diviralkan oleh warga yang merekamnya.
Hasil Pemeriksaan dan Klarifikasi Resmi
Setelah video tersebut viral, kepolisian bergerak cepat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap barang dagangan si pedagang es gabus. Tim Keamanan Pangan Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Polda Metro Jaya mengambil sampel es gabus, es kue jadul, agar‑agar, dan cokelat meses yang dijual pedagang bersangkutan. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa semua produk tersebut aman dan layak dikonsumsi, serta tidak mengandung bahan berbahaya seperti polyurethane foam (PU Foam), spons cuci, atau material busa lainnya.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menjelaskan bahwa temuan itu diperoleh setelah pemeriksaan menyeluruh laboratorium Dokpol, sehingga tudingan sebelumnya terbukti salah. Keputusan ini penting untuk meredakan kekhawatiran publik dan memastikan bahwa jajanan tradisional Indonesia tetap aman dimakan.
Permintaan Maaf dan Penyesalan Aparat
Menanggapi kekeliruan tersebut, Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Aiptu Ikhwan Mulyadi yang menjadi salah satu aparat dalam video viral mengakui bahwa dirinya terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah. Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa, 27 Januari 2026, Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pedagang es gabus yang terdampak langsung dan kepada masyarakat luas atas kegaduhan yang timbul akibat video viral tersebut.
Dalam klarifikasinya, Ikhwan menegaskan bahwa niat awal aparat adalah untuk memastikan keselamatan konsumen dan mengedukasi warga, tetapi metode yang digunakan dalam situasi tersebut ternyata terlalu gegabah dan belum mengikuti prosedur penanganan yang tepat. Ia berharap kejadian ini menjadi pembelajaran untuk lebih berhati‑hati dalam penyampaian informasi ke publik di masa depan.
Lebih lanjut, selain menyampaikan permintaan maaf kepada pedagang yang terdampak, Ikhwan juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang mungkin merasa resah atau bingung menyikapi video viral tersebut. Ia menyadari bahwa aksi mereka dapat memengaruhi usaha dan kehidupan pedagang kecil yang bergantung pada pendapatan harian dari dagangannya.
Reaksi Masyarakat dan Imbauan Kepada Publik
Kasus ini memicu diskusi luas di berbagai media sosial. Banyak netizen mengecam tindakan yang kurang bijak dari aparat, terutama bagaimana sebuah informasi dapat menyebar begitu cepat tanpa verifikasi yang tepat. Sementara itu, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, mengingat dampak yang dapat ditimbulkan setelah sebuah video menjadi viral tanpa konteks yang lengkap.
Sebagian warganet juga menyampaikan dukungan kepada pedagang kecil tersebut, menilai bahwa kejadian ini mencerminkan pentingnya prosedur resmi dalam menangani isu yang berpotensi menimbulkan keresahan publik. Kasus ini juga menjadi pengingat mengenai pentingnya edukasi publik soal makanan tradisional lokal yang mungkin memiliki tampilan tak biasa tetapi tetap aman dikonsumsi berdasarkan hasil uji laboratorium.
